Desain Tapak

Didalam zona pemanfaaan Taman nasional Taka Bonerate sudah dibagi menjadi 2 (dua) ruang yaitu ruang Publik dan Ruang Usaha. Pulau-pulau didalam kawasan yang terdapat ruang usaha adalah Pulau Tinabo Besar, Pulau Tarupa Kecil dan Pulau Belang-belang.
Pulau Tinabo Besar merupakan pusat wisata bahari Taman Nasional Taka Bonerate. Luas daratan pulau sebesar ±17,2 Ha. Luas Pulau Tinabo dan perairan sekitarnya yang termasuk dalam zona pemanfaatan peruntukan wisata sebesar 360 Ha. Pulau Tinabo Besar memiliki substrat pasir pantai berwarna putih dengan topografi daratan yang landai antara 0-2 meter dan vegetasi darat dominan berupa tanaman kelapa, santigi, ketapang, rumput-rumputan, dan perdu-perduan.
Tidak terdapat penduduk di Pulau Tinabo Besar, namun terdapat fasilitas pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate dan sarana prasarana penunjang wisata bahari yang dibangun oleh pengelola Taman Nasional Taka Bonerate maupun oleh Pemda Kab. Kepulauan Selayar. Terdapat fasilitas penginapan, pos jaga, dermaga, dive centre, kios, cafe, musholla, shelter dan gasebo. Juga terdapat prasarana listrik berupa generator (12 jam) dan panel surya serta rainwater harvest.
Persentase tutupan karang di Perairan Pulau Tinabo Besar berkisar antara 3,05% – 57,59%. Ditemukan kurang lebih 24 family ikan karang, dengan kelimpahan individu sebesar 257,4 ekor/10 m2. Ditemukan pula jenis biota lainnya seperti penyu hijau, penyu sisik, berbagai jenis kima, ikan pari, lobster, Linckia sp. Serta berbagai jenis moluska (kerang-kerangan). Terdapat 3 spotdive dengan jarak cukup dekat dari Pulau Tinabo Besar, yaitu Spot Acropora Point (jarak dari Pulau Tinabo Besar ±600 meter), Spot Corina Corner (±620 meter) dan Spot Ibel Orange  (±900 meter).
Memperhatikan fungsi ekologis serta peluang wisata yang dapat dikembangkan pada Pulau Tinabo Besar maka direkomendasikan pulau ini dibagi atas ruang publik dan ruang usaha. Luas ruang usaha yang direkomendasikan di Pulau Tinabo Besar yaitu sebesar 13 Ha.
Pulau Tarupa Kecil. Pulau ini tidak berpenduduk, namun pada waktu-waktu tertentu sebahagian penduduk dari beberapa pulau terdekat menjadikan pulau ini sebagai tempat berisitirahat setelah melakukan aktivitasnya sebagai nelayan tangkap. Luas daratan pulau ini ±6 ha. Luas perairan disekitarnya yang dapat dimanfaatkan untuk aktifitas wisata seperti diving dan snorkeling seluas 3.445 Ha dengan potensi karang hidup seluas 755,7 ha, karang mati 736, 5 ha, lamun 597,9 ha, pasir 1331,5 ha dan bungin 23,5 ha. Di perairan sekitar Pulau Tarupa Kecil dikelilingi oleh beberapa spotdive. Terdapat berbagai jenis biota laut ditemukan diperairan ini, juga ditemukan penyu jenis sisik Eretmochelys imbricata dan penyu Hijau Chelonia mydas. Didaratan pulau ditemukan tegakan mangrove (Avicennia sp) dengan diameter antara 30 cm s/d 90 cm. Tegakan mangrove ini telah dikeramatkan oleh masyarakat, sehingga masyarakat takut untuk menebang bahkan mengambil ranting. Spesies lain yang ditemukan diantara tegakan mangrove tersebut yaitu burung bangau (kontul putih), burung camar, kepiting laut dan sebagainya.
Memperhatikan kondisi fisik dan peluang pengembangan usaha yang dapat dilakukan, maka direkomendasikan pulau ini sebagai ruang usaha dengan tetap memperhatikan kondisi tutupan karang di perairan sekitarnya sehingga potensi wisata bahari dengan segala keindahan bawah laut yang ada tetap terjaga kelestariannya. Arah pengembangan usaha wisata yang dapat dilakukan dapat berupa pembangunan hotel/home stay, restoran, tempat penyewaan alat selam, toko cinderamata, dan lain sebagainya. Lokasi untuk pengembangan usaha terbuka bagi pelaku usaha baik untuk dikelola sendiri maupun bermitra dengan masyarakat sekitarnya. Ruang usaha yang direkomendasikan seluar 3 Ha. Pelibatan masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan aktraksi kesenian atau aktraksi budaya lokal.
Pulau Belang-Belang merupakan pulau tidak berpenghuni dengan luas ±10,14 ha. Disekitarnya terdapat Taka/perairan dangkal seluas kurang lebih 334 Ha dengan potensi karang hidup seluas 114,08 ha, karang mati 136,08 ha, lamun 33,47 ha, dan pasir 50,76 ha. Pulau ini menjadi salah satu titik referensi batas terluar dari Kawasan TN Taka Bonerate. Terdapat potensi spot dive disekitar perairan pulau ini, sehingga pulau ini berpotensi untuk dijadikan sebagai lokasi pembangunan sarana penunjang wisata bahari. Pulau Belang-Belang merupakan lokasi bertelur bagi penyu, karena sering ditemukan banyak penyu disekitar perairan Pulau Belang-Belang pada waktu tertentu (musim kawin atau musim bertelur). Namun beberapa tahun terakhir belum lagi dilakukan monitoring populasi penyu di lokasi ini, sehingga tidak diperoleh data dan informasi lebih lanjut akan keberadaan penyu di pulau ini.
Memperhatikan potensi dan peluang yang ada di Pulau Belang-Belang dan perairan sekitarnya, direkomendasikan pulau ini untuk ruang usaha seluas 9 Ha, dengan tetap memperhatikan kondisi tutupan karang di perairan sekitarnya sehingga potensi wisata bahari dengan segala keindahan bawah laut yang ada tetap terjaga kelestariannya. Peluang usaha terbuka bagi pelaku usaha dan dapat melibatkan masyarakat dengan sistem kemitraan usaha. Arah pengembangan usaha wisata yang dapat dilakukan dapat berupa pembangunan hotel/home stay, restoran, tempat penyewaan alat selam, toko cinderamata, dan lain sebagainya.
Untuk persyaratan dan perijinan dapat dilihat pada Peraturan Jenderal Pelindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : P.12/IV/SET/2011 tentang Pedoman Persyaratan Administrasi dan Teknis Permohonan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2011/03/P_12_2011_PHKA.pdf
Tapak Belang-belang A3 Tapak Tarupa Kecil A3 Tapak Tinabo Besar A3