Proyek Jene : Oase Pendidikan untuk Pulau-Pulau Terpencil Indonesia

Sore itu mendadak pekerjaan kami semua lebih banyak dibandingkan hari biasanya. Satu persatu datang pekerjaan tambahan yang biasanya tidak pernah datang mendekati jam pulang kantor. Padahal malam itu adalah malam keberangkatan kami bertujuh dari Jakarta menuju Selayar untuk menjadi relawan program Kelas Inspirasi Kepulauan Selayar. Setelah perkerjaan selesai, kami pun berlarian dari kantor masing-masing menuju bandara untuk mengejar penerbangan ke Makassar. Ternyata semesta masih mendukung kami semua untuk pergi ke Selayar.

Bagi kami yang datang jauh ribuan mil dari pulau seberang, nama Taka Bonerate terdengar magis dan syahdu. Taka Bonerate seperti mantra bagi para pecinta keindahan bawah laut dan pencari pantai indah. Reputasinya sebagai kepulauan atol terbesar ketiga di Dunia menarik para penjelajah untuk datang berkunjung. Masalahnya, akses untuk sampai ke sana tidak mudah dan membutuhkan tekad baja. Hal ini menjadikan nama Taka Bonerate seperti cerita legenda bagi sebagian orang.

Pesawat dengan baling-baling mendarat dengan mulus. Pukul 11 siang esok harinya kami sampai di Bandara Aroeppala Selayar. Panas seperti biasa, khas daerah pesisir. Ini memang bukan kedatangan pertama untuk beberapa orang dari kami, tapi entah bagaimana rasanya seperti membuncah dan bersemangat seperti pertama kali berkunjung. Senyum mengembang lebar di wajah kami semua. Selayar kami datang.

Hari itu acaranya kami akan berkunjung ke pusat penangkaran penyu di bagian Barat pantai Pulau Selayar dan seharian penuh untuk mempersiapkan keberangkatan kami ke Kepulauan Taka Bonerate untuk bertemu anak-anak SD di sana. Diujung hari kami berdoa semoga ombak cukup bersahabat esok hari supaya perjalanan kami lancar. Semoga.

Ternyata penguasa lautan berkata lain. Rencana keberangkatan kami yang semua pada pagi hari, mendadak berubah total dan baru bisa dilaksanakan pada malam hari. Setelah berbagai macam drama mulai dari kapten kapal yang mendadak memberikan rekomendasi untuk kembali ke Kota Benteng karena ombak terlalu besar sampai kapal yang mendadak rusak dan tidak bisa dipakai. Akhirnya kami berangkat pada pukul 20.00 WITA dan seluruh relawan bergabung dalam satu kapal besar.

Perjalanan tidak bisa dikatakan mulus juga. Beberapa kali sepertinya kapal kami menghantam ombak tinggi yang cukup mengerikan. Ya, sepertinya, karena kami tidak tahu persis apa yang terjadi. Kami terlalu lelah untuk terbangun, mengingat malam sebelumnya pun kami belum tidur yang layak karena harus melakukan penerbangan tengah malam. Bagusnya, jadi menghindari kami dari mabuk laut.

Cahaya masuk di celah-celah jendela kapal yang terbuat dari kayu. Memang, selalu ada matahari yang bersinar setelah badai kencang. Kali ini matahari kami menyambut hangat seluruh relawan di Kepulauan Taka Bonerate. Di kejauhan terlihat samar-samar barisan pohon kelapa dan pantai putih di tengah lautan. Kami yakin itu adalah salah satu pulau tujuan kami. Benar saja, tidak lama kemudian panitia memanggil nama para relawan untuk berkumpul dalam kelompoknya karena akan berpindah ke kapal yang lebih kecil untuk menuju pulau-pulau tujuan program Kelas Inspirasi.

Perjalanan yang sangat menantang, cuaca yang tidak dapat ditebak seperti isi hati gadis belia, jarak yang membentang, kondisi sekolah, minimnya sarana dan prasarana belajar, dan anak-anak yang ada di sana membuat kami bertekad. Kami harus melakukan sesuatu untuk mereka. Kami ingin membuktikan mereka yang tinggal di tengah lautan sana tidak sendirian. Kita masih sama. Kita masih satu, Indonesia.

Sepanjang jalan pulang, kami berpikir, apa yang dapat dilakukan untuk mereka yang tinggal di pulau terpencil. Kondisi seperti itu sepertinya bukan hanya terjadi di Taka Bonerate, tapi hampir di sebagian besar pulau yang ada di Indonesia. Indonesia memang negara kepulauan terbesar di Dunia. Kondisi yang menyebabkan terhamburnya nyala kehidupan di seluruh perairan negeri ini bukan untuk diratapi. Tapi bagaimana menjadikannya sebagai tantangan untuk ditaklukkan.

Dua hal dasar yang menjadi permasalahan, kesehatan dan pendidikan. Kesehatan, kami bukan tenaga ahli yang kompeten untuk melakukan aksi di bidang ini. Dan untuk langkah nyata awal, kami memilih untuk mengambil peran di bidang pemerataan pendidikan. Sepertinya lebih bisa dilakukan mengingat latar belakang kami semua yang semangat menggebu membantu pendidikan Indonesia khususnya masyarakat terpencil atau marjinal. Didorong dengan fakta bahwa sebagian besar penduduk pulau yang berprofesi sebagai nelayan, kehidupan mereka tidak bisa dibilang mewah bahkan untuk hidup cukup saja sepertinya sulit. Hal ini terus terjadi dari generasi ke generasi seperti lingkaran setan. Mereka tidak membutuhkan ikan, mereka butuh kailnya. Dan pendidikan bisa menjadi salah satu ‘jalan keluar’ untuk generasi yang selanjutnya.

Di kota besar, buku-buku berkualitas atau alat peraga menarik untuk belajar sudah menjadi hal yang umum. Bagi mereka yang tinggal di pulau di tengah laut sana, jarak dan keterbatasan materi menjadi hal yang mahal. Sedangkan di kota besar, hal-hal seperti itu sangat berlimpah. Lalu mengapa tidak kami bawa semua kelebihan tersebut ke tempat mereka. Mengumpulkan para orang baik di negeri ini untuk berbagi dengan saudaranya yang berada jauh di tengah lautan. Memang tidak akan menyelesaikan secara langsung permasalahan yang ada, tapi paling tidak bisa menjadi sedikit oase bagi para anak-anak negeri di pelosok sana untuk melihat dunia yang lebih luas.

Lahirlah Proyek Jene. Diambil dari Bahasa Bugis yang berarti air. Kami berharap proyek ini bisa mengalir seperti air jernih untuk melepas dahaga di tengah kekeringan. Proyek Jene akan terus mencoba mengaliri pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia agar teraliri ilmu pengetahuan yang lebih baik.

SD di Pulau Passitalu Timur, Passitalu Tengah, Jinato, Rajuni Bakka, Rajunni Kiddi, Latondu dan Tarupa adalah 7 Sekolah dasar yang menjadi langkah awal kami untuk ikut menuntaskan janji kemerdekaan ‘pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia’. Maka, kami memulai gerakan kecil yang dimulai dari lingkungan teman- teman, keluarga dan kolega untuk mengumpulkan donasi baik berupa uang maupun buku. Selanjutnya, Proyek Jene untuk Taka Bonerate kami bagi menjadi 3 batch untuk memudahkan pengumpulan dana, pembelanjaan buku, dan pengiriman ke lokasi.

Donatur dapat mengirimkan sejumlah donasi uang melalui rekening yang telah ditentukan atau langsung berupa buku bacaan. Saat dana yang ditargetkan terkumpul, maka pembelanjaan buku segera dilakukan. Buku yang kami salurkan berupa buku- buku bacaan pendamping seperti dongeng, cerita rakyat, ensiklopedi dan kamus. Kami juga menyediakan buku- buku untuk bapak ibu guru agar beliau dapat memperluas wawasan khususnya tentang pendidikan karakter anak. Seringkali anak- anak menjadi pusat perhatian sehingga melupakan peran guru yang juga perlu diasah dan ditingkatkan kapasitasnya. Selain buku bacaan, kami juga menyediakan peta dunia. Kami ingin anak- anak mulai menyadari, bahwa nantinya mereka pun dapat menjadi citizen of the world, bagian dari warga dunia. Walaupun saat ini mereka tinggal di daerah terpencil jauh dari keramaian, kami yakin bahwa 20 atau 30 tahun lagi mereka akan mengisi berbagai posisi strategis di berbagai bidang.

Awalnya kami menargetkan tiga batch tersebut akan terselesaikan dalam kurun waktu 1 tahun. Namun, siapa nyana respon dari para donator begitu mengejutkan, sehingga kami dapat menyelesaikan seluruh batch dalam kurun waktu sekitar tiga bulan saja, dari Maret hingga Mei 2016! Masih lekat dalam ingatan kami, ketika menjelang senja saat lelah melanda setelah seharian larut dengan urusan kantor, sebuah pesan masuk. Dari seorang yang tak ingin disebut namanya, bukan seseorang yang kami kenal pula. Isinya menyampaikan bahwa beliau sangat mengapresiasi gerakan seperti ini dan bersedia menjadi donatur. Beliau tidak mengenal kami, kami pun tak tahu darimana beliau mendapatkan informasi mengenai kegiatan ini. Tapi tanpa ragu beliau mempercayai kami. Tak terasa beberapa bulir air mengumpul di pelupuk mata, kami terharu sekaligus bahagia.

Pada hari yang lain, seorang kawan sejawat tiba- tiba mengirim pesan dengan nada begitu bersemangat. Ia berkata sejak dari dulu sebetulnya ingin melakukan kegiatan seperti ini, membantu memfasilitasi anak- anak dari daerah terpencil. Namun, ia tak tahu dengan siapa bisa merealisasikan niatnya tersebut atau bagaimana caranya. Hanya dengan dua kejadian di atas, kami pun semakin menyadari bahwa orang baik masih banyak sekali di dunia ini, hanya saja kadang mereka tidak tahu bagaimana atau lewat siapa bisa membantu.

Selain donatur pribadi, kami juga bekerja sama dengan beberapa instansi seperi Kementrian Pariwisata dan Perusahaan Gas Negara yang menyuplai buku- buku edukatif seperti buku- buku tentang daerah pariwisata di Indonesia. Tak lupa kami juga bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Taka Bonerate untuk memudahkan proses distribusi serta membantu keberlanjutan program ini.

Kami berharap program penyaluran buku ini bisa berlanjut ke pulau- pulau terpencil lainnya di Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan lainnya. Saatnya kita ikut berperan memajukan pendidikan di nusantara, mendukung calon generasi emas membuka wawasan dan meraih cita- cita mereka. Maka, mari ikut bergerak bersama kami untuk mengaliri ilmu pengetahuan ke berbagai sudut pelosok tanah air.Jangan biarkan lautan luas menghalangi cita- cita mereka. Kita bantu mereka melihat dunia melalui buku.

by : rosa and ajeng

14681655_10207713963755328_4461728704762061680_n 14721563_10207715338109686_3071245614035818779_n


12977228_10206356454778452_7154822461681956077_o foto asri 13131579_10206504613162319_1123693905581739461_o foto asri
13524519_10206830690674053_5186152012510951512_n foto asri
CBHHAsyU0AAv3ii CBVQVFfU8AA_RF5 CBYYhceUUAAxY5g CPq1ybEU8AAaY7b