ENERGI TERBARUKAN MENYENTUH RAJUNI KI’DI’

Kompleksitas di PPKT

Direktorat Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil, Kementrian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menginisasi program pulau-pulau kecil berpenduduk yang mandiri. Program ini bertujuan agar pulau-pulau dengan prioritas utama untuk difasilitasi kebutuhan sarana dan prasarananya agar tidak hanya mampu hidup mandiri namun juga menjadi pusat pengembangan bagi wilayah ata pulau-pulau kecil disekitarnya. komponen pembentuk PPKT mandiri ada 8 jenis, yaitu aksesibilitas/konektivitas, pos jaga, telekomunikasi, listrik, pendidikan, kesehatan, air minum/bersih, dan usaha produktif.

Destructive Fishing Watch (DFW) adalah sebuah NGO (Non-Govermental Organization) yang mendapat amanah untuk membantu mengawal program yang diberi nama PRAKARSA yaitu Program Pendampingan Efektivitas Sarana dan Prasarana di Pulau-Pulau Kecil Berbasis Masyarakat. DFW menempatkan tenaga fasilitator ke Pulau-Pulau Kecil dan atau Terluar (PPKT) untuk mengawal efektifitas bantuan sarana dan prasarana.

Pemenuhan Energi Listrik di PPKT

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia, dimana tercakup sejumlah 1.763  pulau-pulau kecil yang berpenduduk. Pada umumnya pulau-pulau kecil terpisah dari pulau utama sehingga sulit dijangkau oleh jaringan nasional (national grid) atau sulit untuk dijangkau oleh energi modern. Hal inilah yang menyebabkan pemenuhan energi listrik di pulau-pulau kecil menjadi satu kendala yang sulit diwujudkan, sehingga modal penyediaan sumber energi listrik dengan sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) menjadi alternatif solusi kebijakan penyediaan energi nasional yang paling memungkinkan dan sesuai dengan visi pembangunan Indonesia kedepan.

Pulau Rajuni Ki’di’

Secara umum, pulau-pulau kecil dan perairan sekitamya di Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan kawasan yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, dan dapat dikelola untuk berbagai kegiatan pembangunan, sepanjang menerapkan kaidah-kaidah konservasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir.

Pulau Rajuni Ki’di’ merupakan bagian dari 21 gugusan pulau di wilayah Tanaman Nasional Taka Bonerate sekaligus termasuk satu dari 7 pulau berpenduduk di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Pulau ini bahkan berada pada urutan teratas dalam hal kepadatan penduduknya. Saat ini, tercatat jumlah penduduk di Rajuni Ki’di’terdiri dari 167 Kepala Keluarga di Dusun Utara dan 179 Kepala Keluarga di Dusun Selatan, dengan jumlah penduduk sebanyak 1604 Jiwa dimana 788 jiwa adalah laki-laki dan 816 perempuan (Data Pendataan Keluarga 2015 BKKBN).

PLTS

Pembangunan PLTS Sistem Terpusat di Pulau Rajuni Ki’di’ sudah melalu banyak perencanaan dan studi, diantaranya analisis tata guna lahan dan lingkungan hidup, analisis demografis, analisis proyeksi kebutuhan energi listrik, analisis ekonomi produktif, analisis kelayakan (feasibility study), dan Detail Engineering Design (DED). Setelah lolos tahapan tersebut, terpilihlah Pulau Rajuni Ki’di’ sebagai penerima bantuan PLTS Terpusat sebesar 75 KWP (kilowatt peak). Kapasitas ini terbagi ke dalam beberapa paket, diantaranya sejumlah 373 paket instalasi rumah dan fasilitas umum, masing-masing sebesar 300 wh (watt hour). Terdapat juga paket Usaha Ekonomi Produktif (UEP) sebanyak 40 paket, masing-masing sebesar 500 wh (watt hour). Sementara ada juga Penerangan Jalan Umum (PJU) yang terpasang di tiang-tiang listrik dengan interval setiap 70 meter. Dengan kuota sebesar ini, maka semua rumah dan fasilitas umum yang berada di Pulau Rajuni Ki’di’ dapat memperoleh aliran listrik.

Proses Pembangunan memakan waktu selama kurang lebih 4 bulan melalui beberapa tahapan. Dimulai dai persiapan dan desain, pekerjaan sipil, pengadaan dan produksi, packing dan transportasi ke lokasi, dan instalasi peralatan. PLTS sudah menyala dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sejak awal Desember 2015.

Fasilitasi dan Kelembagaan

Tugas utama seorang fasilitator selama di lapangan adalah memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga asset PLTS. Lantas siapakah yang akan mengelola PLTS ini?

Pengelolaan PLTS ini diarahkan untuk dikelola secara professional oleh Kelompok Pengelola PLTS bernama Sinar Surya yang terbentuk pada tanggal 30 Agustus 2015 dan dipilih lebih dari sepertiga jumlah Kepala Keluarga di Rajuni Ki’di’. Kelompok Pengelola ini terdiri dari Ketua, Bendahara, Sekretaris, dan 2 orang operator.Kelompok ini mendapatkan pelatihan secara intensif untuk mampu melaksanakan peran dan tanggung jawab masing-masing. Secara umum, tugas dari Kelompok Pengelola ini adalah untuk mengelola dan menjaga keberlanjutan bantuan PLTS di Rajuni Ki’di’.

Pada 8 November 2015, telah dilaksanakan pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kelompok Pengelola yang salah satu point yang telah disepakati bersama masyarakat adalah tentang nominal pembayaran per paket instalasi sebesar Rp 25.000  dan Rp 15.000 untuk Rumah Tangga Pra Sejahtera. Sementara ada 17 Fasilitas umum seperti Sekolah dan Pustu yang dibebaskan dari pembayaran.

Harapan ke depan semoga PLTS dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta Kelompok Pengelola PLTS bisa menjaga keberlanjutan fungsi dan optimalisasi pemanfaatan PLTS. Lebih lanjut, Diharapkan PLTS ini bisa membantu pengembangan potensi perikanan dan pariwisata bahari, mengoptimalkan pemanfaatan dan pengawasan wilayah pengelolaan laut, mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat pesisir di Rajuni pada khususnya dan Kabupaten Kepulauan Selayar pada umumnya. Arni Rohmiatun (Destructive Fishing Watch)

Sosialisasi dan PRA bersama Perwakilan Tokoh Masyarakat

Sosialisasi PLTS

ø;

ø;

Panel Surya Komunal (5)

Batrai Penyimpan Daya

ø;

ø;

ø;

ø;