FAUNA KHARISMATIK TN. TAKA BONERATE.

Taman Nasional Taka Bonerate dengan total luas 530.765 ha memiliki potensi SDA yang melimpah, kategori karang 242 spesies, ikan 564 spesies, molusca 299 spesies, reptilia 6 spesies, crustacea 15 spesies, mamalia 5 spesies, Echinodermata 64 spesies, alga 112 spesies (TN.TBR 2017). Dengan potensi tersebut, tentunya ada flora dan fauna kharismatik didalamnya, flora dan fauna kharismatik tersebut bisa di akses dengan mudah, memiliki nilai atraktif sehingga layak menjadi tontonan ke pengunjung TN. Taka Bonerate, hidup liar dan survive secara alami menambah ke eksotisan flora dan fauna tersebut.
Yuk…. !, kita cari tahu langsung seperti apa fauna kharismatik di TN. Taka Bonerate.

Hiu sirip hitam (Carcharhinus melanoptherus).
Hiu sirip hitam mendominasi seluruh kawasan TN. Taka Bonerate, tetapi tingkat perjumpaan tertinggi bisa di temui di Pulau Tinabo Besar, hiu sirip hitam dengan nama latin (Carcharhinus Melanopterus) adalah spesies hiu dalam keluarga Carcharhinidae. Jenis hiu ini mudah didentifikasi karena terdapat warna hitam pada setiap ujung sirip atasnya, ketika habitatnya aman spesies ini suka berada diperairan dangkal dengan susbtrat dasar pantai berupa pasir. Keberadaan hiu sirip hitam di pinggir pantai pulau tinabo adalah hasil konservasi jangka panjang, sekitar tahun 2008, penduduk musiman yang bermukim di pulau tinabo di pindahkan/kembalikan ke pulau asal mereka, yakni rajuni dan tarupa, hal ini bertujuan untuk mengkonservasi secara total perairan pulau tinabo dari kegiatan aktifitas nelayan yang bersifat ekstraktif seperti memancing, menjala ikan, ma’samba, bubu dan panah ikan. Sejak saat itu rantai ekosistem yang ada diperairan tinabo berjalan normal tanpa intervensi ekstraktif manusia, spesies berkembang maksimal sehingga mengundang kehadiran predator puncak seperti hiu sirip hitam. Awalnya spesies ini beraktifitas di tubir karang, tetapi berselang waktu kemudian makin masuk ke pinggir pantai hingga akhirnya menjadi raja laut dangkal di pantai pulau tinabo, kehadiran hiu sirip hitam di depan wisma tergabung dalam kelompok kecil dengan jumlah spesies diperkirakan 30 sd 60 ekor. Usianya dikategorikan bayi hiu atau belum dewasa berdasarkan prakiraan panjangnya yakni 25 sd 35 cm. ukuran dewasa jenis ini mampu mencapai 1.6 meter dengan rata-rata berat 13 kg.


Hiu sirip hitam mempunyai 2 sirip punggung, satunya tegak menjulang keatas dengan bintik hitam diujungnya, satunya lagi kecil/pendek terletak didepan ekornya, dibekali gigi tajam untuk mengoyak mangsanya, mempunyai bentuk tubuh seperti torpedo sehingga mampu melakukan manuver cepat saat berburu, ekor berbentuk “V’ tidak seimbang, besar diatas kecil dibawah, sirip dada panjang dan besar, bentuk kepala seperti moncong, warna alaminya berupa coklat keabu-abuan pada bagian atas dan putih pada tubuh bagian bawah.
Dalam melanjutkan keturunannya, fauna ini melahirkan 2 sd 4 anakan setiap kehamilan, dengan masa kehamilan antara 8 sd 16 bulan, tidak semua hasil perkawinan fauna ini sukses, perlu usaha berkali-kali untuk memastikan seekor indukan berhasil dibuahi.
Jenis fauna ini cenderung hati-hati dan menghindari manusia dalam interaksinya, tetapi kasus perilaku hiu di tinabo adalah anomali atau pengecualian, tertarik mendekati pinggir pantai ketika mendengar/merasakan suara gemericik air laut. Terbiasa berinteraksi pengunjung dengan perlakuan non agresif membuatnya tak malu berada disekitar manusia, kelompok kecil mereka akan berenang mengitari pengunjung, berlomba merampas setiap pakan yang disuguhkan. Selama berinteraksi dengan fauna kharismatik hiu dipulau tinabo, tidak ada kasus penyerangan terhadap manusia/pengunjung, kecuali tindakan teledor/kurang hati-hati oleh pengunjung, misalnya pemberian pakan yang diletakkan diatas telapak tangan dan menginjak secara tidak sengaja sisa pakan/ ataupun daging.
Hiu sirip hitam dalam keterancamannya di alam, oleh IUCN dimasukkan dalam kategori resiko rendah atau Near-Threatened (NT), hal ini karena area penyebarannya yang luas dan umum dijumpai diperairan terumbu karang tropis, tetapi hal ini tidak boleh melenakan para pejuang konservasi, pengambilan dalam jumlah banyak diwaktu yang singkat mampu memotong generasi dan menghilangkan gen unggul turunannya.

Kima Raksasa (Tridacna gigas)
Kima raksasa (Tridacna gigas) di pulau tinabo adalah salah satu fauna kharismatik yang wajib anda kunjungi jika ke taka bonerate, apa itu kima…?, kima masuk dalam kelas Bivalvia, merupakan hewan lunak yang dilindungi cangkang berpasangan, mencari tempat menempel yang sesuai dengan kondisi habitatnya, kemudian menghabiskan sisa hidupnya dengan berdiam disatu tempat, kima raksasa ditinabo saat ini diameter cangkangnya telah mencapai 80 sd 100 cm, keberadannya sangat penting secara ekologis dihabitat terumbu karang, mencari makan dengan menyaring partikel organik disekitarnya sehingga membantu mengendalikan populasi mikroorganisme, hal ini membantu meningkatkan kesehatan dan visibility air laut, makhluk lainnya berkembang maksimal karena akses cahaya matahari lebih jauh kedalam laut.
Selain berkembang dan mencari makan sendiri, kima raksasa (Tridacna gigas) juga bersimbiosis mutualisme dengan zooxhantellae, zooxhantellae menempel pada mantel kima menjadikannya tempat berlindung dan berfotosintesis yang aman, memanfaatkan karbondioksida, fosfat dan nitrat yang dihasilkan dari metabolisme kima. Kima mendapat keuntungan dengan adanya tambahan nutrisi yang disalurkan melalui sistem saringan makanannya, oleh karenanya kima raksasa dipulau tinabo tetap hidup sehat walaupun terumbu karang disekitarnyaterdiri dari pecahan karang yang mati, supply makanan tambahan diperoleh melalui hubungan timbal balik yang menguntungkan dengan zooxhantellae.


Kima raksasa (Tridacna gigas) di pulau tinabo sebanyak 4 sd 6 ekor, hidup dan menempel saling berdekatan antara satu dengan lainnya, hal ini memberi keuntungan terhadap perkembangan populasi kima, semakin tinggi tingkat kerapatannya dalam suatu area, maka tingkat kesuksesan meneruskan keturunannya semakin tinggi pula. Kedekatan/keberadaan spesies antara satu dengan lainnya mutlak diperlukandalam satu wilayah habitat perairan, cangkangnya yang besar dan berat tidak memungkinkan untuk melakukan perpindahan dan pertemuan dengan kima lainnya, sehingga proses reproduksinya menyesuaikan diri dan menjadi unik, walaupun kima adalah hewan yang bersifat hermafrodit, namun tidak bisa meneruskan keterunannya tanpa kima lain, karena sperma dan sel telur tidak matang bersamaan.
Proses reproduksi unik kima terjadi saat bulan purnama ataupun bulan baru, terlebih dahulu mengirimkan pesan secara kimiawi ke kima lainnya melalui arus laut, kima lain yang menerima pesan akan terangsang pemijahannya sehingga berpeluang melepaskan sel telur ataupun sperma secara bersamaan, setiap individu kima raksasa melepaskan sekitar 500 juta butir dalam satu kali pemijahan. Perilaku unik tersebut adalah salah satu bentuk survive kima dalam meneruskan keturunannya, jika jumlah telur yang dilepaskan sedikit, maka akan habis dimakan oleh predator disekitarnya, telur kima mengandung protein tinggi sehingga menjadi incaran biota laut kecil dan ikan terumbu karang. Dari jutaan butir telur yang dilepaskan, hanya sebagian kecil yang lulus hidup sampai juvenile, beruntung difase awal kehidupan kima raksasa, mulai dari larva sampai dengan juvenile, tingkat pertumbuhannya sangat cepat, diidentifikasi sekitar 12 cm pertahun,sedangkan fase juvenile sd dewasa pertumbuhannya makin melambat.


Populasi kima raksasa (Tridacna gigas) di TN Taka Bonerate makin jarang dijumpai, populasinya terus menurun karena eksploitasi berlebihan, upaya mempertahankan populasi kima telah menjadi perhatian pemerintah sejak dulu, kima raksasa (Tridacna gigas) dan sebagian besar jenis kima lainnya dilindungi berdasarkan PP. No. 7 tahun 1999.
Apakah anda tertarik dengan fauna kharismatik taka bonerate…?, persentase perjumpaan fauna tersebut adalah 100%, artinya jika anda meluangkan waktu ke taka bonerate, pasti akan melihat dan berinteraksi dengan baby hiu sirip hitam, selain itu anda bisa juga melihat langsung kima raksasa yang masih tersisa dialam, ayo… ke “Taka Bonerate”!

Penulis : Saleh Rahman, PEH Muda TN.TBR