Ka. Balai Pimpin Bersih Pantai di Pulau Tinabo

Pulau Tinabo, TN. Taka Bonerate – Kepulauan Selayar (Sabtu, 11 Agustus 2018). Sampah Plastik, Sampah Laut sudah menjadi isu dunia karena makin hari sampah plastik di lautan kian bertambah banyak dan mengancam kehidupan biota laut. Selain itu adapula isu yang mengancam kesehatan manusia dimana mikro plastik akan masuk ke dalam tubuh ikan yang nantinya bisa jadi santapan manusia.

Pulau-pulau yang berada di dalam kawasan TN. Taka Bonerate tak luput dari sampah kiriman berupa plastik bahkan botol kaca bekas minuman dan obat yang tentunya susah terurai. Puncak kiriman sampah dimulai pada bulan Desember hingga bulan Juli tiap tahunnya dan pada bulan-bulan akhir kiriman sampah tersebut, pihak Balai TN. Taka Bonerate rutin melaksanakan bersih pantai yang melibatkan kelompok masyarakat, pelajar, pemerintah setempat dan komunitas.

Faat Rudhianto selaku Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate melakukan kunjungan ke Pulau Tinabo dalam rangka pembinaan pegawai SPTN wilayah I Tarupa. Bersamaan dengan kunjungan tersebut, Kepala Balai bersama seluruh personil SPTN I Tarupa yang berada di lapangan serta mahasiswa PKL/KKN (Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Muslim Indonesia) melakukan kegiatan bersih pantai Tinabo.

“Selain ilegal dan destruktif fishing, permasalahan di TNTBR adalah sampah kiriman.”, ujar Faat Rudhianto. Karena letak pulau banyak yang melintang dari Utara ke Selatan maka pulau-pulau di TN. Taka Bonerate menjadi sasaran empuk musim angin barat (munson) yang membawa sampah kiriman. Begitupun musim angin timur, sampah-sampah kiriman kerap memenuhi bibir pantai.

Muh. Hasan selaku Kepala SPTN I Tarupa menambahkan, “Salah satu upaya yang rutin di lakukan adalah kegiatan bersih-bersih pantai, khususnya di pulau Tinabo yang menjadi ikon wisata di TNTBR”. Dan juga untuk meminimalisir sampah bawaan pengunjung/wisatawan, Balai TNTBR akan mulai menerapkan SOP Pelayanan wisata di mana salah satunya adalah “Garbage in, Garbage Out”, yaitu barang bawaan wisatawan yang digunakan dan menjadi sampah (khususnya plastik), harus dibawa keluar dan kembali dari dalam kawasan.

**

Sumber : Asep Pranajaya – Penyuluh

Editor : Asri – PEH