Mahasiswa Magang Belajar Transplantasi Karang dengan Metode MARRS di TNTBR

 Benteng – Kepulauan Selayar, Rabu, 11 Juli 2019. Terumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk struktur kalisum karbonat, semacam batu kapur yang bersimbiosis dengan Zooxanthella. Ekosistem ini menjadi habitat hidup berbagai satwa laut.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengonfirmasi tentang kerusakan terumbu karang di perairan Indonesia selama ini. Selain karena faktor perubahan iklim, kerusakan terumbu karang terjadi karena di Indonesia berlangsung aktivitas penangkapan ikan dengan cara merusak (destruktif). Perilaku tersebut, mengakibatkan terumbu karang mengalami kerusakan dengan sangat cepat. Tidak terkecuali kondisi terumbu karang dalam kawasan TN Taka Bonerate.

Hal tersebut yang menjadi alasan utama akan dilaksanakannya kegiatan upaya pemulihan ekosistem karang di dalam kawasan.

Rabu, 10 Juli 2019 bertempat di ruang fungsional Balai TN Taka Bonerate Saleh Rahman (Koordinator PEH) mempresentasikan Rencana Pemulihan Ekosistem Terumbu Karang dengan Transplantasi Karang dengan menggunakan metode MARRS (Mars Assisted Reef Restoration System) dengan media rangka Laba-laba.

“Beberapa pekan yang lalu, Direktorat Kawasan Konservasi KLHK bekerjasama dengan PT. MARS melaksanakan kegiatan ToT (Training of Trainer) di Makassar tentang metode ini.” Saleh Rahman memulai presentasinya.

Giat yang dimulai pukul 09.00 Wita dihadiri para pejabat fungsional dan mahasiswa mahasiswi magang/PKL dari Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya dan Institut Teknologi Bandung.

“Ada tiga pengembalian daya dukung kawasan/pemulihan ekosistem di TNTBR yaitu Mekanisme Alami, Rehabilitasi dan Restorasi” pungkas Saleh Rahman.

“Metode ini terbilang baru saya dengar. Dan dari foto hasil transplantasi, pertumbuhan karang tersebut lumayan cepat dan alami” Ucap Arik mahasiswa Universitas Brawijaya

Sedangkan tahap restorasi dan rehabilitasi melalui transplantasi karang metode MARRS rangka Laba-laba dan metode ini sudah dijalankan sejak tahun 2017 namun metode yang digunakan masih ada sedikit kekurangan. Meski demikian kita tetap harus selalu berupaya agar ekosistem laut bisa terus lestari dan berkelanjutan.

Pemulihan ekosistem sangatlah penting dan masyarakat harus ikut terlibat di dalamnya. Sehingga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap ekosistem laut.

Diakhir presentasi ada diskusi, sesi tanya jawab dan praktek kering pemasangan rangka.

Sumber : Asri – PEH Penyelia