Sebuah Nama Untuk Hijaukan Tinabo

Pernahkah anda membayangkan nama anda akan terukir abadi di suatu pulau kosong…?, anda tertarik … ?, mari ikuti ulasannya

Adanya berbagai perubahan kondisi dan kualitas lingkungan tentunya akan bisa berpengaruh buruk terhadap manusia. Beragam bentuk kerusakan lingkungan, seperti pencemaran udara, pencemaran air, dan menurunnya kualitas lingkungan akibat bencana alam, banjir, longsor, kebakaran hutan,  krisis air bersih. Hal ini lama kelamaan akan dapat berdampak global pada lingkungan.

Manusia terkadang tenggelam dalam rangkaian kegiatan yang terlalu berlebihan dan tidak memperhatikan kepentingan lain. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menata dan memelihara kelestarian lingkungan, telah mengakibatkan kemerosotan kualitas lingkungan yang begitu parah. Hal ini hendaklah menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dalam menata kembali suatu wilayah dari segala bentuk berbagai kerusakan lingkungan, disamping menciptakan dan membangun budaya masyarakat dalam berwawasan lingkungan.

Dalam konteks ini, tidaklah berlebihan jika gerakan ramah lingkungan pun bisa kembali digalakkan melalui Unit pelaksana teknis yang ada di daerah, salah satunya unit pelaksana teknis dibawah Kementerian Kehutanan, yakni Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Sebab, dalam rangka menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidup, tidak cukup dibebankan kepada sebuah institusi saja, tapi harus bersinergi dengan unit pelaksana teknis lain dan masyarakat secara umum.

Pembangunan hendaklah bisa memperhatikan ekosistem di sekitarnya. Janganlah, eksistensi lingkungan dikesampingkan oleh dalih penataan wilayah tanpa menghiraukan kelestarian dan kenyamanan lingkungannya.

Menyikapi hal ini, Balai Taman Nasional Taka Bonerate melalui Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan , melakukan kegiatan “Sebuah Nama untuk Sejuta Pohon”

Kegiatan berupa penanaman pohon di Pulau Tinabo Besar di lakukan dengan mengajak wistawan nusantara dan mancanegara, wisatawan yang berkunjung ke pulau Tinabo di ajak turut serta berpartisipasi dalam melakukan penanaman pohon cemara laut (Casuarina Equisetifolia), cemara laut di pilih sebagai tanaman penghijauan karena mampu beradaptasi dengan lingkungan pulau Tinabo yang minim vegetasi darat, sangat menyukai cahaya matahari dan toleran dengan sifat tanah pantai tinabo yang berupa pasir dengan butiran kasar, jenis pasir ini sangat baik menyerap air hujan tetapi bagian bawah permukaan tanahnya mudah terinfiltrasi dengan asinnya air laut.

Karena mudahnya terinfiltrasi dengan air laut menjadikan Pulau Tinabo tidak mampu menjamin ketersediaan air tawar secara terus menerus dan dalam waktu yang lama, kondisi inilah sehingga di galakkan penanaman pohon, dengan tujuan menghijaukan pulau tinabo dan pada akhirnya akan mampu menyerap air hujan, kemudian menyimpannya sebagai cadangan air tanah.

Tiap pohon yang di tanam akan di pasangi papan nama, yang memuat informasi jenis pohon, nama dan asal penanam pohon serta waktu penanaman, satu nama untuk satu pohon, jika penanaman di lakukan oleh banyak orang dan banyak nama, maka menjadi “sebuah nama untuk sejuta pohon”, nama pengunjung akan terukir abadi di pohon yang di titipkan ke alam Pulau Tinabo untuk menjaga dan menumbuhkannya.

Alam telah memberi kita banyak hal, menanam sebuah pohon berarti telah ikut memberi kebaikan terhadap alam, kita tak akan mampu membayar tunai apa yang telah di berikan oleh alam ke kita, tetapi sekecil apapun upaya konservasi yang kita lakukan sangat berarti bagi alam dan kelanjutan kehidupan generasi mendatang.

Oleh : Saleh Rahman – PEH