Tetap Beraktivitas Walau Cuaca Extrem Melanda

Taman Nasional Taka Bonerate – Kepulauan Selayar (Rabu, 08 Januari 2020). Awal tahun baru atau tepatnya pada bulan Januari, angin Muson Barat mulai berhembus kencang. Pada musim inilah Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengumumkan untuk menutup sementara kunjungan wisatawan.

Meski demikian petugas dalam kawasan tetap siaga dan berjaga seperti biasanya. Melakukan penjagaan, patroli rutin hingga monitoring dan pengecekan bangunan dalam kawasan. Sebab pada musim inilah terjadi kecenderungan peningkatan destructive fishing, dan musim ini juga sering terjadi kerusakan pada bangunan-bangunan. Sering kali atap bangunanlah menjadi sasaran utama amukan angin Muson Barat.

Dijumpai diruangan kerjanya, kepala balai Faat Rudhianto menyampaikan bahwa rutinitas teman-teman di dalam kawasan tetap berjalan normal, namun untuk penjagaan dan patroli rutin tetap menjaga kesehatan dan melihat kondisi cuaca demi keselamatan petugas.

Seperti halnya yang dilakukan Petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wil. II Jinato, melakukan patroli rutin sekaligus monitoring dan pengecekan bangunan yang ada dalam wilayahnya. Misalnya saja saat mengunjungi Pulau Lantigian, petugas memeriksa keadaan sekeliling pulau dan beberapa bangunan. Di sekitar area bangunan petugas mendapati jejak penyu yg di dalamnya terdapat sarang telur. Setelah diperiksa dan digali, telur penyu diperkirakan berjumlah 80-100 butir.

“Dikarenakan kondisi cuaca yang tidak menentu, kami tidak berani membawa telur-telur tersebut untuk ditetaskan di sekitar pos jaga. Selain itu, kami juga tidak membawa perlengkapan (ember/baskom) sebagai wadah tempat menyimpan telur selama perjalanan. Jadi kami sepakat telur dibiarkan di tempanya tapi jejaknya dihilangkan dulu.” Ungkap Ajadin Anhar Kares Jinato.

Sesuai kesepakatan telur-telur tersebut dibiarkan tetap di tempatnya, menghilangkan jejaknya meratakan dengan permukaan pasir sehingga tidak mudah ditemukan oleh predator, terutama manusia.

“Tetap waspada, utamakan keselamatan wahai para pejuang konservasi”.

Sumber : Asri – PEH Penyelia