Wisata Budaya

wb1

Taka Bonerate, yang dalam bahasa lokal (bahasa Bugis) berarti “karang menumpuk di atas pasir” atau “gundukan batu di pasir”, terdiri dari 21 pulau dimana 7 pulau di antaranya dihuni oleh penduduk dari suku Bajo, Bugis, Selayar,Buton dan Flores. Peradaban masyarakat yang berada di pulau-pulau kecil dalam kawasan Taka Bonerate merupakan salah satu daya tarik wisata di Taman Nasional Taka Bonerate. Masyarakat yang didominasi oleh suku Bugis dan Bajo, masing-masing memiliki kekhasan budaya dan dilingkupi oleh budaya kemaritiman serta nuansa Islami yang sangat kental menjadikan atraksi budaya menjadi faktor penunjang pengembangan pariwisata di Taman Nasional Taka Bonerate.

1). Peringatan Tahun baru Islam (1 Muharram)

Merupakan seremoni tahun baru Islam, yang dilaksanakan setiap malam tanggal 1 Muharram, (tahun Islam : Hijriah). Pelaksanaannya dipusatkan di mesjid dengan membaca doa-doa, sembari dimeriahkan dengan sajian hidangan bubur putih dan merah serta panganan lain yang dibawa ke mesjid oleh masyarakat untuk disantap bersama.

2). Peringatan Maulid Nabi (12 Rabiul Awal)

Merupakan peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Acara ini biasanya diawali dengan pembacaan dzikir, shalawat lagu-lagu tasawwuf setelah shalat Isya hingga tengah malam dan dilanjutkan keesokan harinya setelah shalat Dhuhur.  Selain itu juga terdapat pembacaan lagu-lagu tasawwuf diiringi dengan gendang dan rebbana.  Penduduk membawa telur berhias ke mesjid (yang ditancapkan ke ember, batang pisang dan lain-lain dan berbendera  warna-warni kadangkala berbendera uang) dan panganan lain seperti nasi ketan, ayam, pisang dan lain-lain.

Setelah pembacaan doa, dilanjutkan dengan memperebutkan telur-telur berhias tersebut kemudian dirangkaikan dengan melakukan pemotongan kambing dalam jumlah yang cukup besar.

3). Nisybu Sya’ban

Merupakan seremoni permohonan atas rahmat Allah SWT  yang dilaksanakan setiap minggu ke- 2 bulan Sya’ban (15 purnama bulan). Umumnya jatuh pada malam kamis, yang dimulai dengan Yadzinan di mesjid setelah shalat Maghrib.  Seremoni ini berlangsung disetiap rumah dimana imam akan bergilir pada setiap rumah untuk membaca doa, setiap rumah menyiapkan panganan, dan dilanjutkan dengan acara silaturrahmi atau saling mengunjungi setiap rumah .

4). Mandi Syafar

Seremoni untuk menolak bala yang dilaksanakan setiap tanggal 27 Syafar (pagi hari) dengan melakukan mandi di laut. Acara dipimpin oleh seorang Kadi yang dimulai dengan sang Kadi membaca Surah Nuh dari  selembar kertas besar. Setelah selesai pembacaan Surah Nuh (Kitab Suci Al-Quran), sang Kadi menyelam/ menceburkan diri di laut, dimana lembaran  Surah inilah yang diperebutkan oleh seluruh peserta acara dan seluruh peserta akan saling siram menyiram.  Acara di akhiri dengan makan bersama panganan yang dibawa ditepi pantai dan  melaksanakan shalat Dhuhur.

5). Idul Fitri

Dilaksanakan setiap tanggal 1 Syawal. Seremoni dilaksanakan 7 hari dan tiga hari sebelum lebaran, dimana anak-anak dan pemuda akan berkeliling pulau sambil membawa obor. Pada saat lebaran dilaksanakan saling bersilaturrahmi antar masyarakat. Umumnya acara berlangsung hingga tujuh hari setelah lebaran.

6). Prosesi penentuan Hari Idul Fitri/Awal Ramadhan

Masyarakat melakukan pengintaian bulan di tepi pantai. Orang yang melihat bulan harus  4 orang atau ada saksi dan dibacakan Surah Yazin bahwa orang tersebut benar-benar melihat bulan sebagai awal penentuan puasa/Idul Fitri.

wb27). Berziarah ke Makam KH. Muh. Said dan KH Abd Muin Dg Ma’Sikki.

Makam ini merupakan tempat ziarah masyarakat, terletak di Rajuni Kecil. Sosok KH. Muh Said (Puang Maros) merupakan penyebar agama Islam yang pertama di Taka Bonerate dan beliaulah yang pertama “mendaratkan” orang-orang bajo agar bertempat tinggal di daratan. Sedang putranya : KH. Abd Muin Dg Ma’Sikki (Puang Kali’) adalah seorang ulama besar di Kabupaten Kepulauan Selayar khususnya di Taka Bonerate.

8). Prosesi Pernikahan Suku Bugis

Upacara pernikahan bagi masyarakat pulau adalah hal yang sakral dan penuh dengan atraksi budaya yang khas. Diawali dengan prosesi lamaran, prosesi malam pacar, acara pernikahan dan berbagai prosesi menarik lainnya.

wb39). Prosesi Pernikahan Suku Bajo

Sama halnya dengan proses pernikahan suku bugis, namun yang membedakan yaitu pada saat setelah lamaran dan lamaran tersebut diterima maka dilakukan proses menaikkan bendera/panji-panji keturunan Lolo Bajo yang biasa disebut Ulla-ulla. Prosesi ini dilaksanakan bersama dengan atraksi gendang dan pencak silat serta mengenakan bambu anyaman atau disebut Wala Suji.

Ulla-ulla berupa bendera berbentuk orang yang diatasnya terdapat bendera yang berwarna kuning keemasan kain tersebut terbuat dari kain sutera. Menurut kepercayaan masyarakat Bajo bahwa kain tersebut diturunkan langsung dari langit, karena pada zaman itu belum ada pembuat tenun sehalus kain tersebut. Ulla-ulla tersebut, dibawa oleh salah satu anak dari Batara Guru (manusia pertama di sulawesi selatan) dan kemudian menetap di Pulau Rajuni. Saat ini Ulla-ulla tersebut telah dibagi dua  yaitu bendera yang berbentuk orang di pegang oleh bangsawan laki-laki yang tinggal di Rajuni Besar, sedang bendera kuning keemasan dipegang oleh bangsawan perempuan yang tinggal di Rajuni Kecil.

Tempat-Tempat Bersejarah di Kawasan Taka Bonerate

  1. Taka Miriam dimana terdapat meriam kuno milik tentara Belanda
  2. Taka Gantarang merupakan tempat bertemunya pejuang dari kawasan untuk menyusun kebijakan dan peraturan serta terdapat meriam kembar yang diperkirakan berasal dari barang dagangan yang tumpah dari kapal karam milik pedagang-pedagang Cina masa lampau.
  3. Taka Balanda merupakan tempat pertahanan serdadu Belanda dan terdapat jangkar besar milik kapal Belanda yang karam
  4. Pulau Rajuni merupakan pusat kerajaan/ pemerintahan kawasan Taka Bonerate pada masa lampau
  5. Pulau Tambuna merupakan tempat memakamkan pejuang kawasan Taka Bonerate yang gugur dalam pertempuran dengan Belanda
  6. Pulau Lantigiang merupakan tempat melantik pimpinan/ pejabat pemerintahan dan pejuang di zaman kolonial
  7. Bungin Kamase merupakan tempat membuat kesepakatan dan membagi bersama hak-hak atas sumber daya laut dan darat dari hasil kerjasama diantara kelompok-kelompok masyarakat dalam kawasan yang melibatkan raja Buton, Bugis, Makassar, Selayar dan Lolo Bajo.
  8. Taka Lamungan merupakan tempat pemakaman para pejuang yang gugur dalam pertempuran.